Bupati Prihatin Soal Penanganan Sampah di Jalur Derawan, Wisata Meningkat Tapi Gerbang Masuk Masih Semrawut
POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Bupati Berau Sri Juniarsih Mas menyampaikan keprihatinannya terhadap persoalan yang menurutnya tak seharusnya terus berulang, yakni soal sampah yang masih menumpuk di jalur utama menuju Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Pulau Derawan.
Dengan nada tegas,
Sri Juniarsih menunjukkan kegeramannya terhadap belum terealisasinya pengadaan
bak sampah besar atau ambrol di wilayah Kecamatan Gunung Tabur, meski usulan
tersebut, menurutnya, sudah berulang kali disampaikan kepada pihak terkait.
Persoalan ini menjadi
sensitif karena jalur tersebut bukan jalan biasa. Inilah akses utama wisatawan
menuju Derawan, destinasi unggulan yang menjadi ikon pariwisata Berau, bahkan
salah satu wajah pariwisata Kalimantan Timur di tingkat nasional. Namun di tengah
status strategis itu, persoalan dasar seperti penanganan sampah justru dinilai
belum tertangani dengan serius.
“Keberadaan sampah
yang masih ada di Kecamatan Gunung Tabur, sampai saat ini belum ada ambrol-nya.
Saya melihat setiap hari sangat tidak nyaman karena tumpukan tersebut
mengganggu pemandangan mata,” tegas Sri Juniarsih.
Pernyataan itu
sekaligus mencerminkan kekecewaan Bupati terhadap lambannya respons perangkat
daerah dalam menangani persoalan yang justru berkaitan langsung dengan citra
daerah.
Bagi Sri Juniarsih,
persoalan ini bukan semata soal kebersihan, tetapi menyangkut wajah pariwisata
Berau secara keseluruhan. Ia menilai, jalur menuju Derawan seharusnya menjadi
koridor yang memberi kesan baik bagi wisatawan, bukan justru memperlihatkan tumpukan
sampah yang mengganggu pemandangan, bahkan berpotensi menciptakan kesan buruk
sejak awal perjalanan.
Menurutnya,
pembangunan pariwisata tak cukup hanya berbicara promosi, angka kunjungan, atau
pembangunan infrastruktur besar, sementara persoalan dasar yang kasatmata
justru diabaikan. Ia mengungkapkan, dirinya sudah berkali-kali berkomunikasi
dengan Camat Gunung Tabur maupun Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK),
meminta agar bak sampah besar segera ditempatkan di titik yang selama ini
menjadi persoalan. Tujuannya sederhana, agar sampah tidak lagi berserakan,
tidak meluber, dan tidak sampai jatuh ke jurang di sekitar jalur tersebut.
Namun hingga kini,
realisasi yang diminta belum juga terlihat. Berbagai alasan teknis, menurut
Bupati, tak seharusnya membuat persoalan mendasar seperti ini berlarut. Justru
di tengah efisiensi anggaran, ia menekankan seluruh perangkat daerah harus
cermat melihat mana kebutuhan prioritas yang dampaknya langsung dirasakan
masyarakat.
“Setiap rupiah yang
dibelanjakan harus memiliki manfaat maksimal,” pesannya.
Tak berhenti pada
persoalan sampah, Sri Juniarsih juga menyoroti masalah lain yang dinilai sama
mendesaknya, yakni kondisi infrastruktur jalan menuju wilayah pesisir
Biduk-Biduk dan kawasan wisata Derawan. Ironisnya, catatan itu muncul justru
saat sektor pariwisata Berau sedang menunjukkan tren menggembirakan. Bupati
mengungkapkan, jumlah kunjungan wisata tahun ini menjadi yang tertinggi dalam
beberapa tahun terakhir, mencapai lebih dari 92 ribu wisatawan.
Lonjakan itu,
menurutnya, tidak lepas dari hadirnya Jembatan Sambaliung yang memperkuat
konektivitas menuju kawasan wisata.
“Kami sangat
bersyukur Alhamdulillah, beberapa tahun terakhir kunjungan pariwisata tertinggi
adalah tahun ini karena adanya Jembatan Sambaliung. Kunjungan mencapai 92.000
lebih,” ujarnya.
Namun di balik
capaian itu, ia mengingatkan masih terdapat titik jalan rusak, bahkan ruas yang
amblas di pinggir sungai, terutama di kawasan Samburakat hingga Sambaliung.
Kondisi tersebut dinilai tidak hanya
mengganggu kenyamanan perjalanan, tetapi juga berpotensi membahayakan
keselamatan pengguna jalan, termasuk wisatawan yang melintas. Karena itu, Sri
Juniarsih meminta dukungan anggota DPRD Provinsi Kalimantan Timur untuk turut
mengawal percepatan perbaikan jalan yang menjadi kewenangan pemerintah
provinsi.
Menurutnya,
peningkatan kunjungan wisata tak boleh hanya dirayakan sebagai capaian angka,
tetapi harus dibarengi kesiapan infrastruktur yang benar-benar mendukung. Di
balik teguran yang disampaikan, tersimpan pesan yang lebih besar. Sri Juniarsih
seolah menegaskan bahwa pariwisata tidak bisa dibangun secara
setengah-setengah.
Destinasi kelas nasional seperti Derawan, kata dia, tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam. Daya saing destinasi juga ditentukan oleh kualitas tata kelola, kebersihan, aksesibilitas, dan kenyamanan yang dirasakan wisatawan sejak pertama memasuki kawasan.
Sampah di jalur utama dan jalan rusak, dalam
pandangannya, bukan sekadar persoalan teknis, melainkan ancaman nyata bagi
citra daerah. Jika pintu masuk destinasi saja masih semrawut, maka yang
dipertaruhkan bukan hanya kenyamanan wisatawan, tetapi juga reputasi Berau
sebagai daerah tujuan wisata unggulan. Pesan ini sekaligus menjadi kritik
terbuka agar perangkat daerah tidak terjebak pada rutinitas birokrasi, tetapi
lebih responsif terhadap persoalan konkret di lapangan. (sep/FN/Advertorial)